Awal Puasa Ramadan Diperkirakan Berbeda


Umat Muslim di Indonesia diperkirakan tak serentak dalam mengawali puasa Ramadan 1431 H. Pasalnya, organisasi massa terbesar Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah memiliki keyakinan masing-masing dalam berijtihad menentukan awal puasa.

Bahkan, Muhammadiyah sudah sejak jauh hari memastikan puasa Ramadhan dimulai 11 Agustus, yang diputuskan pada lokakarya hisab Majlis Tarjih Pengurus Pusat Muhammadiyah. Sekretaris Pengurus Daerah Muhammadiyah Jateng, Tafsir menerangkan, terpaksa mengawali puasa berbeda dengan NU bahkan kemungkinan besar pemerintah karena perbedaan hasil dari metode yang digunakan masing-masing.

“Bagi Muhammadiyah, bukan masalah bulan bisa dilihat atau tidak, tetapi besaran derajat bulan berada di atas ufuk yang menandakan masuk bulan baru, yakni sebesar 2 derajat. Hal ini sudah bisa diprediksikan sejak jauh hari, tak seperti metode rukyah yang digunakan NU dan pemerintah yang harus melihat hilal (bulan) dulu tepat sehari sebelum tanggal 1 bulan berikutnya,” katanya, Kamis (5/8).

Rois Syuriah Pengurus Besar NU, Masdar Farid Mas’udi mengatakan, NU memiliki tradisi menentukan awal puasa Ramadan secara hati-hati dan teliti. Ada dua metode yang dikombinasikan oleh NU, yakni menghitung (hisab) dan melihat bulan (rukyat). Namun, penentuan akhir lewat metode rukyat.

“Kombinasi metode ini lebih teliti. Kalau saat rukyat, bulan tidak bisa dilihat, masa bulan Syakban disempurnakan jadi 30 hari. Sementara kalau bulan berhasil dilihat, bulan Syakban menjadi 29 hari. Namun, kemungkinan besar bulan tidak bisa dilihat sehingga awal Ramadan menjadi 12 Agustus,” ujarnya.

Selama ini, kata Masdar, metode yang dianut NU, selalu diikuti oleh pemerintah. Bahkan, saat melakukan rukyat, NU bersama-sama dengan pemerintah di masing-masing daerah. Akan tetapi, pihaknya tidak mau menganggap salah pihak lain yang menentukan awal puasa berbeda, sehingga menimbulkan polemik bahkan situasi yang tak kondusif di masyarakat.

“Ke depan, pemerintah perlu memfasilitasi supaya awal dan akhir puasa tidak ada perbedaan lagi, supaya masyarakat awam tidak bingung kapan memulai atau mengakhiri puasa,” tukasnya.

Tafsir berharap, seluruh umat Muslim menghormati keputusan masing-masing, yang penting didasarkan ilmu ilmiah. Selain itu, mengisi puasa dengan amalan sebanyak-banyaknya.

Sementara itu, Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Semarang, H Taufik Rahman mengimbau seluruh umat Muslim mengawali puasa Ramadan berdasar hasil isbat Kemenag RI yang diadakan sehari sebelum perkiraan mulai puasa. “Kalau memang terpaksa berbeda berdasar pertimbangan ilmiah, dipersilakan, tetapi harus mengedepankan toleransi dan tidak memaksakan keyakinannya kepada pihak lain,” katanya.

Sumber : CyberNews

Jika anda suka artikel ini, silakan share ke teman FACEBOOK anda. Cukup dengan meng-KLIK link ini! Terimakasih.

BACA JUGA :………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………..

More at : AGAMA
Kontak Saya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s