Geosentrik-Anggapan Bumi Pusat Alam


Geosentrik (ejaan lama Geocentris) adalah suatu pemahaman yang menganggap bumi
sebagai pusat alam. Dengan anggapan ini kalau kita melihat ke atas akan
tampaklah langit berbentuk setengah bola, yang disebut bola langit. Pada bola
langit melekatlah benda-benda langit, yang semuanya terbit di sebelah timur dan
terbenam di sebelah barat. Di antara benda-benda langit itu ada dua yang besar,
yang lain kecil-kecil saja. Yang kecil-kecil dinamakan bintang-bintang dan dua
yang besar itu adalah matahari dan bulan. Dengan pandangan geosentrik ini
marilah kita mengamati gerak matahari dan bulan. Sebenarnya setiap tahun ummat
Islam melakukan pengamatan itu. Yaitu dalam bulan-bulan Ramadhan dan bulan
Syawwal. Mengapa, karena ummat Islam amat berkepentingan mengenai posisi kedua
benda langit itu pada bola langit. Ini dalam hubungannya dengan penentuan
masuknya bulan Ramadhan atau masuknya bulan Syawwal. Apabila  pada waktu siang
harinya posisi matahari dan bulan sama tingginya di  atas  ufuk, maka pada
waktu matahari terbenam, bulan yang lebih lambat geraknya, posisinya masih di
atas ufuk. Dan itu artinya masuklah 1  Ramadhan, atau 1 Syawwal. Posisi matahari dan bulan yang sama  tinggi di atas ufuk dalam ilmu falak disebut
dengan istilah ijtima’ (conjuction). Apabila posisi matahari dan bulan dalam
keadaan ijtima’ dan pada waktu itu terletak dalam satu titik pada bola langit,
maka terjadilah gerhana matahari. Ijtima’ terjadi satu kali dalam 29,53059
hari. Kalau dalam bulan Ramadhan (dan bulan-bulan lain tentunya) ijtima’
terjadi sebelum matahari terbenam, maka pada bulan Ramadhan itu jumlahnya 29
hari. Tetapi kalau ijtima’ terjadi setelah terbenam matahari, maka pada bulan
Ramadhan itu itu jumlahnya 30 hari. Itulah penjelasannya mengapa satu bulan
jumlahnya 29 atau 30 hari. Jadi dengan pandangan yang geosentrik ini pada bola
langit setiap bulan pada waktu ijtima’, matahari menyusul bulan, akibat gerak
bulan yang lebih lambat dari matahari.

Pandangan geosentrik inilah yang dikritik dalam S.Yasin, 36:40:
La sysyamsu yanbaghiylaha an tudrika lqamara wa la llaylu saabiqu nnahaari
wa kullun fiy falakin yasbahuwn
.

Artinya:
Tidak seyogianya matahari menyusul bulan, tidaklah malam  mendahului siang,
dan semuanya itu berenang dalam falaknya.

Selama kita berpandangan geosentrik, bumi sebagai pusat alam, selama itu pula
kita katakan matahari menyusul bulan. Pada hakekatnya  tidaklah dapat kita
katakan malam mendahului siang, walaupun dalam pergantian hari, malam dahulu
baru siang (malam Senin dahulu baru hari Senin). Mengapa? Karena terjadinya
malam dan siang itu akibat perpusingan bumi pada sumbunya di mana kita ada pada
permukaan bumi. Dalam gerak melingkar itu yang menyebabkan siang dan malam itu
tidak dapat kita katakan malam lebih dahulu dari siang, karena gerak melingkar
itu tidak tentu ujung pangkalnya. Alhasil matahari menyusul bulan, malam
mendahului siang itu  hanya  akibat dari pandangan kita yang geosentrik.

Jadi kuncinya terletak dalam Kullun fiy falakin yasbahun, semuanya berenang
dalam falaknya. Bulan mengedari bumi, bumi mengedari matahari dan sementara itu
pula bumi perpusing pada sumbunya, matahari mengedari pusat Milky Way, Milky
way dan semua galaxy dan super galaxy bergerak saling menjauhi, tidak ada benda
langit ciptaan Allah yang diam, semuanya bergerak. Dalam hal ini Al- Quran juga
mengeritik pandangan helio sentrik, matahari sebagai pusat alam, yaitu
pandangan Koppernigk (Copernicus).

Ada suatu nilai yang dapat kita simak dari S. Yasin 40 itu. Dalam memberikan
kritik, tidak hanya asal kritik saja, melainkan di samping kritik yang
dilancarkan,  haruslah pula diberikan jalan keluar. Artinya, secara etik kita
tidaklah berhenti pada kritik dan titik. Melainkan kritik itu ditutup dengan
koma, masih ada lanjutannya, yaitu bagaimana semestinya. Seperti dalam ayat di
atas tidak berhenti pada kritik terhadap pandangan geosentrik, melainkan kritik
itu ditutup dengan suatu pemecahan masalah, yaitu kullun fiy falakin yasbahuwn,
semuanya berenang dalam falaknya.

Yang kedua kritik Al Quran atas pandangan geosentrik sedemikian rupa , sehingga
tidak membingungkan masyarakat pada waktu Al Quran diturunkan. Kalau Al Quran
secara tegas menyatakan bahwa bumi bukanlah pusat alam, maka masyarakat tidak
akan mamu mengerti, bahkan akan menolak pernyataan itu, karena tidak sesuai
dengan “fakta” yang disaksikan oleh mereka itu. WaLlahu a’lamu bishshawab.

www.mail-archive.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s