Kiat Menghadapi Gempa Bumi


Masih trauma dengan kejadian gempa bumi dan tsunami yang melanda Aceh, Nias, Pangandaran, Yogyakarta dan Jawa
Tengah yang menelan ribuan korban, tanggal 2 September 2009 pukul 14.55 WIB, kembali gempa menguncang Tasikmalaya Jawa Barat.
Gempa bumi terjadi dengan tiba-tiba, tanpa memberi peringatan. Gempa bumi dapat terjadi setiap saat pada waktu
siang hari maupun malam hari. Ada 25 wilayah di Indonesia yang rawan gempa bumi. Yaitu (1). Nanggroe Aceh
Darussalam, (2). Sumatera Utara – Simeulue, (3).Sumatera Barat – Jambi, (4). Bengkulu, (5) Lampung, (6). Banten –
Pandenglang, (7). Jawa Barat – Bantar Kawung, (8). DI Yogyakarta, (9). Lasem, (10). Jawa Timur – Bali, (11). Nusa
Tenggara Barat, (12). Nusa Tenggara Timur, (13). Kepulauan Aru, (14). Sulawesi Selatan, (15). Sulawesi Tenggara,
(16). Sulawesi Tengang, (17). Sulawesi Utara, (18). Sangihe Talaud, (19). Maluku Utara, (20). Maluku Selatan, (21).
Kepulauan Burung – Papua Utara, (22). Jayapura, (23). Nabire, (24). Wamena, (25). Kalimantan Timur.
Gempa Bumi dan Penyebabnya
Gempa bumi adalah suatu guncangan yang cepat di bumi disebabkan oleh patahan atau pergeseran lempengan tanah di
bawah permukaan bumi. Kebanyakan gempa bumi terjadi di perbatasan antara pertemuan dua lempengan. Setiap hari
terjadi puluhan bahkan ratusan gempa bumi di muka bumi ini, hanya saja kebanyakan kekuatannya kecil sekali sehingga
tidak terasa oleh kita.
Ada tiga gelombang gempa yaitu :
1. Gelombang longitudinal yaitu gelombang gempa yang merambat dari sumber gempa ke segala arah dengan kecepatan
7 – 14 km per detik. Gelombang ini pertama dicatat dengan seismograf dan yang pertama kali dirasakan orang di
daerah gempa, sehingga dinamakan gelombang primer.
2. Gelombang Transversal yaitu gelombang yang sejalan dengan gelombang primer dengan kecepatan 4 – 7 km per
detik, dinamakan juga gelombang sekunder.
3. Gelombang panjang atau gelombang permukaan, yaitu gelombang gempa yang merambat di permukaan bumi dengan
kecepatan sekitar 3,5 – 3,9 km per detik. Gelombang inilah yang paling banyak menimbulkan kerusakan.
Ketiga gelombang tersebut menjalar serempak dari pusat gempa atau hiposentrum, tetapi karena faktor perbedaan dalam
kecepatan, gelombang itu tertangkap secara beruntun pada seismograf. Dari perbedaan waktu itu dapat diperhitungkan
tempat yang merupakan pusat getaran pada permukaan bumi atau episentrum.
Beberapa Jenis Gempa :
* Pertama, Gempa Gunung Api ­- gempa akibat kejutan langsung kekuatan gunung api.
* Kedua, Gempa Laut – gempa yang episentrumnya terdapat di bawah permukaan laut tetapi di atas dasar laut.
Biasanya menimbulkan gelombang yang dahsyat.
* Ketiga, Gempa Tektonik – gempa karena pergeseran lapisan-lapisan bumi, yang terjadi jauh di bawah permukaan
bumi. Dalam gempa tektonik biasanya terdapat suatu pusat gempa yang hiposentrum dan merupakan gempa yang dahsyat.
Getaran gempa ada yang horizontal dan ada yang vertikal, sehingga alat pencatatnya juga ada macamnya.
1. Seismograf horizontal terdiri atas massa stasioner yang digantung pada tiang dan dilengkapi engsel di tempat
massa itu. Digantungkan serta jarum di bagian bawah massa itu. Jika ada gempa massa itu tetap diam (stasioner)
sekalipun tiang dan silender di bawahnya ikut bergetar dengan bumi. Akibatnya terdapat goresan pada silender
berlapis jelaga. Goresan pada silender itu berbentuk garis patah yang dinamakan seismogram.
2. Pada seismograf vertikal, massa stationer digantung pada pegas, yang berfungsi untuk menormalkan gravitasi
bumi. Pada waktu getaran vertikal berlangsung, tempat massa itu digantung dan silender alat pencatat ikut
bergoyang, namun massa tetap stationer, sehingga terdapat seismogram pada alat pencatat.
Di sebuah stasiun gempa dipasang dua seismograf horizontal yang masing-masing berarah timur-barat dan utara-
selatan. Dengan dua seismograf ini tercatat getaran berarah timur-barat dan utara-selatan, sehingga dari
resultannya petugas dapat menentukan arah episentrum. Dibantu oleh sebuah seismograf vertikal yang dipasang bersama
kedua seismograf tadi, dapat ditentukan letak episentrum gempa tersebut. Untuk mencatat getaran yang lemah,
diperlukan seismograf yang sangat peka. Namun, getaran yang terlalu kuat membuat seismograf tidak mampu membuat
catatan, karena tangkai alat pencatat bisa mengalami kerusakan.
Pada awalnya gempa bumi yang lebih kecil akan diikuti oleh goncangan yang utama yang dapat menyebabkan kerusakan
pada bangunan lebih lanjut. Gempa kecil dapat terjadi pada jam pertama, atau setelah beberapa hari, beberapa
minggu, dan bahkan bulan setelah terjadinya gempa utama.
Yang perlu diperhatikan pada saat terjadinya gempa bumi adalah bangunan tempat tinggal yang mudah roboh, sehingga
kita perlu berhati-hati, jika perlu pindah dari gedung bekas gempa. Sedangkan mereka yang tinggal di sekitar
pantai, perlu memperhatikan gejala air laut, sehingga kita segera mengungsi ke tempat lebih tinggi, agar tidak
dapat dijangkau oleh ombak tsunami.
Tips Menghadapi Gempa Bumi
– Bila berada didalam rumah :
1. Jangan panik dan jangan berlari keluar, berlindunglah dibawah meja atau tempat tidur.
2. Bila tidak ada, lindungilah kepala dengan bantal atau benda lainnya.
3. Jauhi rak buku, almari dan jendela kaca.
4. Hati-hati terhadap langit-langit yang mungkin runtuh, benda-benda yang tergantung di dinding dan sebagainya.
– Bila berada di luar ruangan
1. Jauhi bangunan tinggi, dinding, tebing terjal, pusat listrik dan tiang listrik, papan reklame, pohon yang
tinggi, dsb.
2. Usahakan dapat mencapai daerah yang terbuka.
3. Jauhi rak-rak dan jendela kaca.
– Bila berada di dalam ruangan umum
1. Jangan panik dan jangan berlari keluar karena kemungkinan dipenuhi orang.
2. Jauhi benda-benda yang mudah tergelincir seperti rak, almari dan jendela kaca dsb.
Bila sedang mengendarai kendaraan
1. Segera hentikan di tempat yang terbuka.
2. Jangan berhenti di atas jembatan atau dibawah jembatan layang/jembatan penyeberangan
Semoga bermanfaat!.(Berbagai sumber)

Masih trauma dengan kejadian gempa bumi dan tsunami yang melanda Aceh, Nias, Pangandaran, Yogyakarta dan Jawa Tengah yang menelan ribuan korban, tanggal 2 September 2009 pukul 14.55 WIB, kembali gempa menguncang Tasikmalaya Jawa Barat.

Gempa bumi terjadi dengan tiba-tiba, tanpa memberi peringatan. Gempa bumi dapat terjadi setiap saat pada waktu

siang hari maupun malam hari. Ada 25 wilayah di Indonesia yang rawan gempa bumi. Yaitu (1). Nanggroe Aceh Darussalam, (2). Sumatera Utara – Simeulue, (3).Sumatera Barat – Jambi, (4). Bengkulu, (5) Lampung, (6). Banten – Pandenglang, (7). Jawa Barat – Bantar Kawung, (8). DI Yogyakarta, (9). Lasem, (10). Jawa Timur – Bali, (11). Nusa Tenggara Barat, (12). Nusa Tenggara Timur, (13). Kepulauan Aru, (14). Sulawesi Selatan, (15). Sulawesi Tenggara,

(16). Sulawesi Tengang, (17). Sulawesi Utara, (18). Sangihe Talaud, (19). Maluku Utara, (20). Maluku Selatan, (21). Kepulauan Burung – Papua Utara, (22). Jayapura, (23). Nabire, (24). Wamena, (25). Kalimantan Timur.

Gempa Bumi dan Penyebabnya

Gempa bumi adalah suatu guncangan yang cepat di bumi disebabkan oleh patahan atau pergeseran lempengan tanah di bawah permukaan bumi. Kebanyakan gempa bumi terjadi di perbatasan antara pertemuan dua lempengan. Setiap hari terjadi puluhan bahkan ratusan gempa bumi di muka bumi ini, hanya saja kebanyakan kekuatannya kecil sekali sehingga tidak terasa oleh kita.

Ada tiga gelombang gempa yaitu :

1. Gelombang longitudinal yaitu gelombang gempa yang merambat dari sumber gempa ke segala arah dengan kecepatan 7 – 14 km per detik. Gelombang ini pertama dicatat dengan seismograf dan yang pertama kali dirasakan orang di daerah gempa, sehingga dinamakan gelombang primer.

2. Gelombang Transversal yaitu gelombang yang sejalan dengan gelombang primer dengan kecepatan 4 – 7 km per detik, dinamakan juga gelombang sekunder.

3. Gelombang panjang atau gelombang permukaan, yaitu gelombang gempa yang merambat di permukaan bumi dengan kecepatan sekitar 3,5 – 3,9 km per detik. Gelombang inilah yang paling banyak menimbulkan kerusakan.

Ketiga gelombang tersebut menjalar serempak dari pusat gempa atau hiposentrum, tetapi karena faktor perbedaan dalam kecepatan, gelombang itu tertangkap secara beruntun pada seismograf. Dari perbedaan waktu itu dapat diperhitungkan tempat yang merupakan pusat getaran pada permukaan bumi atau episentrum. Beberapa Jenis Gempa :

* Pertama, Gempa Gunung Api ­- gempa akibat kejutan langsung kekuatan gunung api.

* Kedua, Gempa Laut – gempa yang episentrumnya terdapat di bawah permukaan laut tetapi di atas dasar laut. Biasanya menimbulkan gelombang yang dahsyat.

* Ketiga, Gempa Tektonik – gempa karena pergeseran lapisan-lapisan bumi, yang terjadi jauh di bawah permukaan bumi. Dalam gempa tektonik biasanya terdapat suatu pusat gempa yang hiposentrum dan merupakan gempa yang dahsyat.

Getaran gempa ada yang horizontal dan ada yang vertikal, sehingga alat pencatatnya juga ada macamnya.

1. Seismograf horizontal terdiri atas massa stasioner yang digantung pada tiang dan dilengkapi engsel di tempat massa itu. Digantungkan serta jarum di bagian bawah massa itu. Jika ada gempa massa itu tetap diam (stasioner) sekalipun tiang dan silender di bawahnya ikut bergetar dengan bumi. Akibatnya terdapat goresan pada silender berlapis jelaga. Goresan pada silender itu berbentuk garis patah yang dinamakan seismogram.

2. Pada seismograf vertikal, massa stationer digantung pada pegas, yang berfungsi untuk menormalkan gravitasi bumi. Pada waktu getaran vertikal berlangsung, tempat massa itu digantung dan silender alat pencatat ikut bergoyang, namun massa tetap stationer, sehingga terdapat seismogram pada alat pencatat.

Di sebuah stasiun gempa dipasang dua seismograf horizontal yang masing-masing berarah timur-barat dan utara-selatan. Dengan dua seismograf ini tercatat getaran berarah timur-barat dan utara-selatan, sehingga dari resultannya petugas dapat menentukan arah episentrum. Dibantu oleh sebuah seismograf vertikal yang dipasang bersama kedua seismograf tadi, dapat ditentukan letak episentrum gempa tersebut. Untuk mencatat getaran yang lemah, diperlukan seismograf yang sangat peka. Namun, getaran yang terlalu kuat membuat seismograf tidak mampu membuat catatan, karena tangkai alat pencatat bisa mengalami kerusakan.

Pada awalnya gempa bumi yang lebih kecil akan diikuti oleh goncangan yang utama yang dapat menyebabkan kerusakan pada bangunan lebih lanjut. Gempa kecil dapat terjadi pada jam pertama, atau setelah beberapa hari, beberapa minggu, dan bahkan bulan setelah terjadinya gempa utama.

Yang perlu diperhatikan pada saat terjadinya gempa bumi adalah bangunan tempat tinggal yang mudah roboh, sehingga kita perlu berhati-hati, jika perlu pindah dari gedung bekas gempa. Sedangkan mereka yang tinggal di sekitar pantai, perlu memperhatikan gejala air laut, sehingga kita segera mengungsi ke tempat lebih tinggi, agar tidak dapat dijangkau oleh ombak tsunami.

Tips Menghadapi Gempa Bumi

– Bila berada didalam rumah :

1. Jangan panik dan jangan berlari keluar, berlindunglah dibawah meja atau tempat tidur.

2. Bila tidak ada, lindungilah kepala dengan bantal atau benda lainnya.

3. Jauhi rak buku, almari dan jendela kaca.

4. Hati-hati terhadap langit-langit yang mungkin runtuh, benda-benda yang tergantung di dinding dan sebagainya.

– Bila berada di luar ruangan

1. Jauhi bangunan tinggi, dinding, tebing terjal, pusat listrik dan tiang listrik, papan reklame, pohon yang tinggi, dsb.

2. Usahakan dapat mencapai daerah yang terbuka.

3. Jauhi rak-rak dan jendela kaca.

– Bila berada di dalam ruangan umum

1. Jangan panik dan jangan berlari keluar karena kemungkinan dipenuhi orang.

2. Jauhi benda-benda yang mudah tergelincir seperti rak, almari dan jendela kaca dsb.

Bila sedang mengendarai kendaraan

1. Segera hentikan di tempat yang terbuka.

2. Jangan berhenti di atas jembatan atau dibawah jembatan layang/jembatan penyeberangan

Semoga bermanfaat!.

(Berbagai sumber)

– Data Para Korban Tasikmalaya

– Korban Gempa Mulai Muncul

–  Waspada Gempa!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s